Online Baccarat Casino_Macau Baccarat Website_Baccarat Skills Road List_21 o'clock online_Sports betting William Hill

  • 时间:
  • 浏览:0

“Nggak jadi ah. Ntabbbet365 sports bettinget365 sports bettinget365 sports bettingr ada yang nyinyirin bet365 sports bettinglagi.”

“Unggah nggak, ya?” tanyamu pada diri sbet365 sports bettingendiri.

Mau sampai kapan terus mempertimbangkan pandangan orang lain terkiat unggahanmu di dunia maya? | Photo by Lisa on Pexels

Sesekali, kamu harus bisa bersikap masa bodoh juga dengan pandangan orang. Lagipula, kita nggak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan, kan? Kita hanya bisa mengontrol apa yang kita sendiri lakukan dan pikirkan. Daripada pusing dan repot-repot memikirkan apa yang tidak bisa dikontrol, gimana kalau kamu tetap fokus sama dirimu saja?

Kuhitung udah sepuluh kali lo, kamu mengulang pertanyaan yang sama dan akhirnya gagal mengunggah satu konten di media sosial. Sangat sulit, ya, sampai terus berpikir ulang? Kamu pasti takut orang-orang mengomentari unggahanmu atau diam-diam menghujatmu di belakang. Omongan warganet di media sosial memang kejam. Salah ketik saja, riwayatmu bakal tamat dalam sekejap. Ketakutan akan komentar atau anggapan orang lain memang wajar, tapi sampai kapan kamu menjalani hidup yang penuh ketakutan seperti itu?

Coba lihat deh! Foto yang gagal kamu unggah ini sangat bagus lo. Pemandangan pantai saat kamu sedang camping bersama teman-teman rasanya layak saja dibagi. Nggak ada yang salah kok dengan foto ini. Selain takut dikomentari, apa saja sih yang kamu khawatirkan ketika mau mengunggah foto atau story di media sosial?

Konten-konten yang sifatnya privat sebaiknya dihindari, seperti data identitas diri, buku tabungan, lokasi rumah, nomor ponsel, dan sebagainya. Jangan pula unggah  aktivitas sehari-hari yang sangat pribadi di media sosial. Meskipun jejak digital bisa dihapus, tapi orang lain bisa merekam atau melakukan tangkapan layar sehingga unggahanmu bisa didapatkan. Who knows tangkapan layar itu nggak digunakan macam-macam, kan? Gimana kalau malah dipakai untuk merugikanmu? Wah… bisa runyam~

Keresahanmu tak hanya di situ aja ternyata. Persepsi orang tentang dirimu juga sangat mengganggu. Ketika mengunggah story jalan-jalan misalnya. Pikiran akan mereka yang menganggapmu orang yang suka foya-foya terus menghantui. Saat mengunggah foto berisi pesan kebaikan, kamu malah dituduh sok suci dan sekadar pencitraan saja. Anggapan-anggapan miring seperti itu akhirnya menghalangimu untuk mengunggah konten di media sosial.

Tahu nggak kalau apa yang kamu alami sudah termasuk overthinking? Ya, betul. Memikirkan sesuatu secara berlebihan dan terus-menerus sampai merasa cemas, memikirkan terlalu keras risiko-risiko dari unggahanmu di media sosial, hal ini malah bisa menyebabkan kesehatan fisik dan mentalmu terganggu. Padahal, bisa jadi pikiran-pikiran buruk itu cuma ada di kepalamu. Realitanya, orang lain mungkin masa bodoh juga dengan apa yang kamu bagikan di media sosial.

Kalau asal unggah, kamu malah bisa oversharing. Ancaman cyberbullying atau kejahatan berbasis siber lainnya juga akan mengintaimu. Supaya aman bermedia sosial dan nggak bikin overthinking, kamu perlu memperhatikan beberapa hal ini:

Bagikan foto, story, atau cuitan di media sosial dengan percaya diri. Tunjukkan gagasan, kemampuan, atau bakatmu. Misal pun, kamu ingin berbagi keseharian juga tak apa-apa. Bisa jadi unggahanmu memberikan dampak positif bagi orang lain. Jika ada orang lain yang menanggapi unggahanmu dengan sinis, abaikan saja. Tidak semua komentar atau omongan orang perlu ditanggapi. Makanya, pentingnya self awarenesess ketika menggunakan media sosial biar kamu tetap sehat jiwa dan raga~

Rasanya tentu nggak enak, ya? Setiap kali akan mengunggah konten, kamu selalu diliputi banyak pertanyaan dan pertimbangan. Muncul berbagai kekhawatiran tentang bagaimana orang akan mencibir atau menghujat. Meskipun mereka nggak berkomentar apa-apa, kamu yakin kalau mereka berpikir macam-macam tentangmu. Padahal, apa yang mereka pikirkan  berbeda dengan niat dan tujuanmu membagikan konten itu.

Kalau dua rumus itu diaplikasikan, kamu akan ‘bebas’ dari overthinking saat mau mengunggah konten di media sosial. Kuharap kepercayaan dirimu makin bertambah. Jadi, kamu bisa membagikan konten sesuai keinginan, tentunya tetap penuh tanggung jawab dan sadar dengan setiap konsekuensinya. Peluk dan dukunganku selalu untukmu. Kutunggu konten-kontenmu yang di media sosial, ya~

Tips biar nggak overthinking saat mengunggah konten di media sosial | Illustration by Hipwee

Unggah foto nggak ya? | Photo by Omkar Patyane on Pexels

Setiap kata, setiap foto, atau apa pun bentuk kontennya, kamu memang harus memikirkannya. Namun, pikirkan dengan wajar saja, tak perlu sampai berlebihan. Pastikan unggahanmu tidak melewati batas, apalagi sampai menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Harap beli akses artikel ini atau berlangganan   untuk melanjutkan

Belum ada tiga detik, kamu melemparkan ponsel ke kasur. Ujung-ujungnya kamu cuma menghela napas. Lelah.

Sadarkah kamu kalau hidup ini cuma sekali dan bisa jadi sangat sebentar? Kita nggak bakal tahu akan hidup sampai kapan. Bukankah hidup akan makin bermakna kalau bisa melakukan yang kamu inginkan? Memikirkan dan mempertimbangkan risiko atas unggahanmu di media sosial itu perlu, tapi jangan sampai kamu justru larut dalam pertimbangan yang tak berkesudahan. Akhirnya malah nggak melakukan apa-apa gara-gara terjebak ketakutan dan kekhawatiran tersebut. Sayang, kan?

“Unggah aja deh,” katamu lagi.

Ketika menggunakan media sosial, kamu harus sadar kalau unggahanmu dikonsumsi oleh publik. Artinya, kamu membagikan secuil dari hidupmu pada mereka. Nah, anggapan orang lain tentangmu tentu tak bisa dihindari. Kamu harus paham konsekuensi itu. Yang bisa kamu lakukan adalah tetap bertanggung jawab dengan apa yang sudah dibagikan. Pasalnya, meski bebas mengunggah konten, kamu tak lantas lepas dari tanggung jawab. Pastikan unggahanmu memang tidak merugikanmu dan orang lain. Selama kontenmu masih dibatas ‘aman’ itu, maka bebas saja membagi unggahanmu dengan percaya diri.